Saturday 20 February 2010

Heboh Film Lumpur Sidoarjo

Kasus lumpur Sidoarjo tak kunjung usai. Kisahnya pun dituangkan dalam sebuah film dokumenter, ‘Mud Max’. Dari AS, kini tayang perdana di Australia. Seperti apa?

Sutradara film dokumenter bertajuk ‘Mud Max: Investigative Documentary -Sidoarjo Mud Volcano Disaster’, Gary Hayes mengatakan, tujuan pembuatan film itu untuk menunjukkan fakta-fakta dari semua sisi. Pada akhirnya film ini akan membiarkan penonton memutuskan apa yang sebenarnya menyebabkan terjadinya letusan lumpur tersebut.

Hayes mengaku, ingin membuat sebuah dokumenter yang mewakili kegetiran yang harus dihadapi warga Indonesia. “Mereka adalah penduduk kawasan paling banyak gunung merapi di dunia,” ujarnya dalam sebuah rilis kepada INILAH.COM, baru-baru ini.

Pemutaran perdana ‘Mud Max’ ini diawali di AS dan langsung disusul pemutaran perdananya untuk kawasan Asia Pasifik. Yakni di Museum Seni Kontemporer Sydney, Australia pada 13 Februari 2010 lalu.

Dokumenter yang diproduksi selama dua setengah tahun oleh Immodicus SA merupakan hasil kerjasamanya dengan Universitas Arizona State, School of Earth and Space Exploration.

‘Mud Max’ meneliti bencana letusan lahar lumpur pada Mei 2006 di Sidoarjo, Jawa Timur, yang kemudian dikenal dengan LUSI. Film ini juga meneropong kehancuran ekonomi, sosial dan politik yang turut gempar akibatnya.

Di zaman sejarah modern seperti sekarang ini jarang sekali terjadi peristiwa geofisik yang mencetuskan begitu banyak kontroversi maupun analisis serta opini cendikiawan yang terpolarisasi akibat suatu peristiwa alam seperti ini.

Dalam pembuatan ‘Mud Max’, para peneliti menggali analisis dan opini dari berbagai sumber. Di antaranya para ahli geologi, ahli pemboran dan ilmuwan lainnya. Mereka mengeksplorasi segala sudut fakta dari peristiwa tragis yang hingga kini masih berlangsung, termasuk konsekuensi ilmiah, ekonomis dan kemanusiaan yang ditimbulkannya.

Sejumlah ilmuwan dari berbagai penjuru dunia menyakini penyebab lumpur LUSI adalah gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta dua hari sebelumnya. Namun ada juga yang menyalahkan kegiatan pemboran sumur gas alam di dekat lokasi luapan lumpur sebagai penyebabnya.

Berbagai cara telah diupayakan untuk menghindari ranjau-ranjau politik yang mengintari investigasi resmi menyangkut letusan ini. Namun melalui proses pencarian fakta, para peneliti ‘Mud Max’ telah menemukan dokumen-dokumen yang dapat menunjukkan adanya upaya yang berusaha mengecohkan arah berlangsungnya penelitian.

Pada awalnya kesalahan hanya ditunjukkan ke perusahaan pemboran Lapindo Brantas. Melalui surat yang dibocorkan ke sebuah media dalam negeri oleh mitra usaha Lapindo, PT Medco Energi.

Dalam surat tersebut, Medco menyatakan Lapindo lalai karena tidak menggunakan casing baja pada bagian tertentu di lubang sumur sehingga menyebabkan terjadinya luapan tersebut. Medco juga menyampaikan wanti-wanti kepada Lapindo akan konsekuensi yang dapat terjadi.

Namun ‘Mud Max’ juga menyingkap notulen rapat para pemegang saham yang berkumpul 11 hari sebelum terjadi letusan. Ketika itu, ketiga pemegang saham, Lapindo Brantas, Medco Energi dan Santos sepakat bahwa casing tidak dibutuhkan pada kedalaman 8.500 kaki. Tudingan Medco mengenai masalah casing itulah yang menjadi penyulut anggapan bahwa LUSI disebabkan oleh pemboran.

Di itu samping para produser menemukan sebuah dokumen berupa ringkasan laporan penelitian yang diterbitkan pada 14 Juni 2006 oleh pemerintah Indonesia. Isinya menunjuk sebuah tim investigasi independen untuk meneliti luapan lumpur Sidoarjo.

Dokumen ini menyatakan bahwa metoda pemboran yang dilakukan di lokasi pemboran Banjar Panji-1 telah berlangsung dengan wajar, benar, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Yang menjadi kontroversi, tak lama setelah mengeluarkan laporan tersebut, pimpinan tim investigasi, Dr Rudi Rubiandini, berbalik menyalahi penemuan tim investigasinya sendiri.

Setelah pemutaran perdana dokumenter tersebut di Museum Seni Kontemporer, para ahli dari Universitas Arizona State (ASU) – School of Earth and Space Exploration akan menjadi tuan rumah bagi simposium mengenai isu ini. Ilmuwan terkemuka dari Universitas Oslo, Universitas New South Wales dan Universitas Nasional Australia akan hadir dalam simposium tersebut. [mdr-inilah.com]