Friday 19 February 2010

Kurang Sinar Matahari Bikin Susah Bangun Pagi

Ada sebagian orang yang cukup sulit bangun di pagi hari. Orang yang susah bangun tidur menurut peneliti bukan berarti pemalas. Orang-orang ini susah bangun pagi karena kurang terkena sinar matahari.

Menurut studi terbaru yang dilakukan peneliti Inggris, orang dewasa saat ini lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan. Mereka juga jarang terkena sinar alami dari matahari terutama di pagi hari.

Hal itu membuat jam biologis tubuh terganggu dan akhirnya memicu perasaan belum ngantuk ketika malam tiba, kebiasaan menunda tidur yang akhirnya membuat rasa lelah dan malas bangun keesokan harinya. Gejala ini umumnya terjadi pada remaja sehingga peneliti menyebutnya sebagai 'teenage night owl syndrome'.

"Kurang kena sinar matahari akan membuat seseorang tidur lebih larut, tidak cukup tidur dan akhirnya merasa malas," ujar Dr Mariana Figueiro dari the Rensselaer Polytechnic Institute's Lighting Research Centre, New York seperti dilansir dari Telegraph, Jumat (19/2/2010).

Figueiro juga menyebutkan, kurang sinar matahari akan membuat performa seseorang menurun. Ia dan rekannya pernah melakukan tes terhadap dua jenis kelompok remaja, yaitu kelompok yang sering kena sinar matahari dan kelompok yang jarang kena matahari.

Hasilnya menunjukkan remaja yang lebih banyak kena sinar matahari menghasilkan skor tes yang lebih baik daripada remaja yang jarang kena sinar matahari. "Sinar matahari di pagi hari sangat penting untuk kebutuhan jam biologis seseorang, terutama remaja," kata Figueiro.

Cahaya matahari akan membantu tubuh melepaskan hormon melatonin, yaitu hormon yang bikin tidur. Kekurangan cahaya berarti hormon melatonin tidak akan terlepas dari tubuh yang membuat orang jadi ingin tidur terus. Artinya ketika waktunya bangun pagi tubuh seperti dipaksa untuk bangun yang membuat tubuh terasa capek dan berat untuk beraktivitas.

Cahaya biru dengan panjang gelombang pendek adalah cahaya yang paling bagus untuk melepaskan hormon melatonin. Jenis cahaya tersebut umumnya berasal dari cahaya matahari di pagi hari.

"Jika seseorang melewatkan cahaya itu di pagi hari maka hormon melatonin akan terlambat dilepaskan dan akhirnya waktu tidur juga akan mengalami kemunduran," jelas Figueiro.

Studi yang dipublikasikan dalam Journal Neuroendocrinology Letters ini menyarankan pentingnya terkena sinar matahari di pagi hari. Peneliti juga menyarankan agar desain bangunan dirancang sedemikian rupa agar sinar matahari bisa masuk ke dalam ruangan meski seseorang berada di dalam ruangan.

(fah/ir-detikhealth)